Bitter. Sweet. Sour. Spicy.


Alhamdulillahh.. Kehamilan ketiga saya sudah masuk minggu ke 32! MasyaAllah, hamil yang nikmat banget karena berlalu tanpa mual dan muntah, pun gak ada ngidam yang bikin susah.

Tapi di kehamilan ini ada pengalaman baru: plasenta previa total. Sebuah kondisi di mana plasenta menutup jalan lahir dan semakin besar janin, resiko pendarahan pun akan semakin besar. Itulah yang sedang terjadi kepada saya saat ini.

Di minggu ke 30, pendarahan pertama terjadi. Saya pun dirawat 2 malam dan bisa lanjut tirah baring di rumah tepat di momen Idul Fitri. Dokter bilang, kita coba untuk bertahan minimal sampai usia kandungan 37 minggu. Jangan terlalu banyak aktivitas, usahakan banyak berbaring.

Lalu, tidak sampai 2 minggu kemudian, kembali keluar flek. Sedikit, tapi keluar 3 hari berturut-turut. Saya pun kembali ke dokter. Alhamdulillah semua aman dan tidak perlu dirawat. Hanya diberikan obat tambahan. Kali ini dokter berpesan, minimal banget kita jaga sampai 34 minggu, karena di usia segitu, mortality rate bayi sudah jauh lebih kecil. Tapi kondisi ideal tetap bersalin di usia 37 minggu ke atas.

Memang lah setiap kehamilan punya cerita unik masing-masing. Tapi kehamilan kali ini jadi terasa seperti kehamilan pertama. Udahlah bayinya (InsyaAllah) laki-laki, kemungkinan besar akan operasi caesar pula! Sungguh 2 hal baru yang bikin excited sekaligus bikin mikir: can I do it?

Bismillah, lagi dan lagi saya minta doa dari semua yang membaca yaaaa.. Semoga Allah SWT menjaga saya dan bayi dalam keadaan sehat selamat sempurna hingga saat persalinan nanti. Aamiin!


It’s 11.59 am and I can finally breath! πŸŽ‰ Alhamdulillah.

Semalam saya merasa sangat overwhelmed sampai-sampai saya nangis karena gak kuat menahan emosi. Kemarin itu rasanya banyaaaaaaaakkk banget yang harus dilakukan dan otak ini kayak ga bisa berhenti sejenak. Saya yakin, semua orang pasti pernah mengalami kayak gini. Bener gak?

Dimulai dari ART yang gak masuk, suami yang ngantor dari pagi sampai malam, cuaca yang super panas tapi harus tetap antar jemput sekolah, dan beberapa hal lainnya yang bahkan untuk ditulis aja udah ga ada energinya. πŸ˜† Ga hamil aja bisa bikin mood naik turun, gimana pas lagi hamil begini, ya kaaaann?

But I made it! For the many times, I made it! πŸŽ‰ Alhamdulillah, dengan seizin Allah SWT tentunya.

Semua yang harus dilakukan pelan-pelan sudah terlaksana. Yang belum dilakukan sudah masuk dalam daftar rencana. Dan, ya, akhirnya sekarang sudah bisa bernafas dengan lega lagi! ❀️

Tulisan singkat ini adalah pengingat. Bahwa seberat dan sekacau apapun emosi saya, jangan lupa minta Allah untuk menguatkan dalam mengatasinya. Allah yang kasih beban, Allah juga yang akan menguatkan dalam memikulnya.

Buat semua yang baca, yang mungkin sedang dalam perasaan yang tidak nyaman, jangan lupa minta Allah untuk memampukan dalam melewatinya!


Dari kemarin pengen nulis tentang si Kakak tapi perasaannya udah ga karuan duluan. Bismillah, semoga kali ini bisa lancar.

Minggu lalu, saya dapat masukan dari salah satu guru si Kakak. Not a new thing, tapi entah kenapa rasanya cukup mengena sehingga saya pun langsung menghubungi salah satu klinik psikologi dan booking 1 sesi untuk si Kakak.

Menurut salah satu guru lesnya β€” dengan bahasa yang sangat halus β€” adab dalam belajar masih perlu ditingkatkan. Kesimpulan itu didapat dari perbandingan dengan murid lain yang lebih manis, nurut dan tampak bersemangat ketika belajar.

Sementara si Kakak? Dia punya segudang pertanyaan tentang segala hal, sehingga ketika diajari sesuatu, biasanya dia tidak serta merta menerima dan akan bertanya β€œkenapa begitu? Kok ga begini?”. Ketika pertanyaan itu tidak terjawab, dia akan zone out dari realita karena 1 pertanyaan akan menjadi banyak cabang di otaknya β€” yang mencoba mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri. Ketika dia zone out, otomatis dia akan mengacuhkan lawan bicaranya. Tentu hal itu akan terlihat tidak sopan, apalagi jika lawan bicaranya adalah orang yang lebih tua.

Sebagai orangtua, saya sangat paham dengan karakternya. Dan jujur, saya merasa itu bukan sebuah masalah. Kalo dia mulai hilang fokus, ya tinggal diingetin aja untuk kembali ke topik utama. Saya juga tidak memaksa si Kakak untuk cemerlang dalam akademis. Harapan saya pada sekolah hanyalah mereka bisa membantu saya menemukan strong point dan uniqeness dalam diri si Kakak sehingga itulah yang akan kita kembangkan ke depannya. Tapi ketika ada guru yang merasa si Kakak harus memperbaiki adab, it’s another story.

Long story short, berlangsunglah sesi dengan psikolog. Kesimpulan awal: tidak ada masalah sama sekali, terutama terkait fokus dan konsentrasi ketika belajar. Memang anaknya suka bercerita. Dikasih 1 contoh kasus, ceritanya bisa melebar ke mana-mana. Tapi itu bukan masalah. Memang karakternya seperti itu.

Lalu di hari yang sama, muncul notifikasi ini di grup sekolah:

Penilaian mingguan untuk murid di kelas. Dan dia dapat Best Akhlak. πŸ₯² Seorang anak yang dirasa masih perlu memperbaiki adab, ternyata bisa mengungguli teman-teman sekelasnya.

Biasanya, notifikasi ini tidak terasa begitu spesial. Tapi kali ini, saya seperti auto ditempeleng sama Allah SWT karena meragukan anak sendiri.

Lalu, apakah jadi kesal sama gurunya? Oh tentu tidaaakk~ Kalo ga ada trigger, mungkin ga akan menghubungi psikolog. Padahal hasil dari assessment kemarin bisa dijadikan panduan untuk mengarahkan langkah si Kakak. Tapi ini jadi pelajaran, untuk bisa lebih percaya ke diri sendiri dalam menilai anak. Jangan sampai opini 1 orang bikin panik gak karuan, padahal sebenarnya saya adalah yang paling tahu tentang si Kakak. ❀️


JUDUL MACAM APA ITU?? 🀣

Ini maksudnya!

Kenalin, ini Mocil. Mobil kesayangan yang saya beli tahun 2010. Yup, hampir 12 tahun umurnya! Mocil sudah menemani 1/3 perjalanan hidup saya yang tentunya penuh warna. Menjadi saksi kebucinan sama pacar/gebetan dan nangis sepuasnya ketika hubungannya ga berhasil. Menjadi moda transportasi paling handal untuk seabrek urusan komunitas dan sosial. Sampai menaungi keluarga kecil saya sejak awal menikah sampai sekarang. Bahkan ketika 2 tahun lalu Allah memberi rezeki mobil baru yang lebih besar dan nyaman, Mocil tetap disayang terutama sama anak-anak. ❀️

Pandemi 2 tahun lebih membuat frekuensi pemakaian Mocil berkurang jauh. Setelah sempat jamuran di joknya (🀒🀒), sekarang giliran persnelingnya yang brudul. Brudul as in kepala persneling copot dan ga bisa dilem ke gagangnya karena dalamnya udah keropos. Awalnya sih ga parah dan udah ada niat untuk langsung direparasi. Tapi ya gitulah, karena super jarang dipakai, jadi kayak gak ada sense of urgency-nya. πŸ˜†

Sampai hari ini, persnelingnya harus dikasih tindakan gawat darurat. Tapi di luar itu, sungguh performa Mocil masih prima. AC dingin, mesin ga ngadat, dan semua bagian seperti sound system, jendela, lampu dll masih berfungsi dengan baik.

Begitu doang sampe harus masuk blog, Ka?

IYA.

Karena melalui Mocil saya belajar untuk menikmati being an underdog. Sudah tak terhitung berapa kali saya diremehkan orang hanya karena mobil yang biasa saja. Tapi Alhamdulillah, karena itu saya jadi punya lingkungan pertemanan yang (InsyaAllah) tulus tanpa ada rasa ingin memanfaatkan. Saya juga jadi belajar untuk selalu membumi dan tidak tinggi hati karena, yaaaaa jadi selalu inget β€œapa yang mo disombongiiinn?” πŸ˜„πŸ˜„

Sampai kapan Mocil akan menjadi bagian keluarga ini?

Jujur gak tau. Tapi yang jelas, jika sudah saatnya dilepas, itu bukan semata karena ada yang lebih baik. Mungkin ketika itu, dia sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan kami lagi dan akan lebih bermanfaat untuk pihak lain. πŸ₯²


And in a blink of an eye, suddenly we’re already halfway there! πŸ’™

Alhamdulillah, di saat lagi super niat diet dan olahraga, Allah titipkan lagi 1 makhluk hidup untuk tumbuh di dalam rahim saya. πŸ₯²

Rasanya campur aduk! Dari awal menikah, memang saya dan suami berencana untuk memiliki 3 anak. Tapi Qadarullah, setiap habis melahirkan, hormon di badan saya tidak dengan serta merta kembali normal. Dokter pun sudah memvonis akan susah hamil lagi kalau tidak diusahakan dengan program khusus.

Jarak usia antara anak pertama dan kedua adalah 4 tahun. Itu pun seperti dapet jackpot karena kami sudah pasrah untuk melanjutkan hidup dengan 1 anak saja. Setelah anak kedua lahir, vonis itu kembali datang. Meski masih tersimpan harapan agar Allah mengabulkan apa yang kami cita-citakan, kami juga sudah ikhlas untuk fokus membesarkan 2 anak cantik yang sudah Allah titipkan.

Lalu entah doa siapa yang Allah kabulkan, bulan November 2021, muncullah 2 garis di alat tes kehamilan. Jujur, di usia yang tak lagi muda, sempat muncul beberapa kekhawatiran. Tapi MasyaAllah, Allah Maha Baik, di kehamilan ketiga ini semua berjalan nyaman. Sangat nyaman sampai saya insecure sendiri. Tidak ada mual-muntah, tidak ada sensitivitas berlebih terhadap bau, hanya rasa malas yang luaaaarr biasa yang ga bisa saya lawan. Trimester 1 saya habiskan dengan banyak tidur di kasur. Bukan karena ga enak badan, tapi ya karena pengen aja! πŸ™ˆ

Dan sekarang, setengah perjalanan sudah dilewati. Masih ada 20 minggu lagi yang akan dijalani. I really embrace my pregnancy this time because (in Allah’s will) this will be the last one.

Mohon doanya ya semua, semoga bayi di dalam kandungan saya tumbuh sehat, sempurna dan lahir dengan selamat pada waktuNya. Aamiin.

My family is perfect. But this baby BOY will make it complete. πŸ’™


Bismillah..

Pernah gak sih, kita berkhayal pengen ini pengen itu tapi tahu kalo itu ketinggian? Kayak, jauuuuuuuhh banget dari jangkauan? Yang secara sadar pengen nampar pipi sendiri supaya bangun dan kembali ke realita?

Saya? Pernah. Sering bahkan!

Tapi kemudian, pernah gak khayalan itu jadi kenyataan? Sesuai yang diucapkan, padahal ketika mengucapkannya pun kita ya enteng aja karena menganggap itu sekedar omongan sambil lalu.

Saya? Sering juga!! MasyaAllah.

Semakin bertambah umur, ketika melihat ke belakang, saya baru sadar betapa omongan-sambil-lalu saya ternyata benar-benar terjadi. Ga cuma sekali. Atau 2 kali. Berkali-kali. MasyaAllah.

Tentu ini bukan karena saya yang mampu. Semua Allah yang mudahkan, Allah yang mengizinkan. Tapi setiap omongan saya diijabah, saya ga bisa menjelaskan betapa luar biasanya perasaan saya. Senang, sekaligus takut. Rasanya ibadah saya masih jauh dari cukup untuk menerima nikmat ini. Tapi saya ga sanggup bayangin kalau ini adalah istidraj β€” sebuah ujian dari Allah yang melenakan saya untuk segera bertobat.

Saya pernah berucap:

Pengen kerja di perusahaan minyak, aah! β€” tanpa benar-benar paham itu perusahaan apa. Maklum, cuma ikut-ikutan aja pas denger ada temen yang kerja di situ dan katanya gajinya besar. Alhamdulillah, Allah izinkan. Dan bukan sekedar perusahaan minyak, tapi saya bekerja di perusahaan yang menjadi rumah kedua saya. Suasana kerja yang nyaman, penghasilan yang di atas rata-rata, dan fasilitas (terutama kesehatan) yang sangat memadai.

Pengen nikah antara umur 25-27, aah! β€” perhitungan saya, umur segitu udah puas kerja dan bersenang-senang pakai duit sendiri. Alhamdulillah, saya menikah di usia 27 tahun, 11 bulan, 1 minggu alias hanya 3 minggu sebelum saya berusia 28 tahun.

Pengen lunasin KPR sebelum umur 30 deh! β€” padahal saat itu cicilan baru juga dimulai, di usia 25 tahun. Alhamdulillah, di umur 29 tahun saya melunasi rumah pertama saya. Jangka waktu KPR selama 22 tahun bisa selesai dalam 4 tahun. Cicilan mobil pun lunas. Jadi saya bisa tenang menjalani peran saya selanjutnya: ibu rumah tangga.

Pengen jadi Ibu Rumah Tangga, apalagi kalau sudah punya anak! β€” cita-cita saya sejak di bangku SMA. Berbekal keyakinan Allah akan selalu mencukupi hambaNya yang berniat mematuhi perintahNya, Alhamdulillah saya (dan suami + anak) tetap hidup cukup pasca resign, tak kekurangan meski sumber pendapatan hanya dari suami saja. Bukan kami yang hebat, tapi Allah yang selalu kasih jalan.

Pengen lunasin KPR dalam 6-7 tahun, lah! β€” ucap saya bercanda ketika tanda tangan rumah bersama suami. Padahal tenornya 20 tahun, itu pun kami sangat mengencangkan ikat pinggang untuk membayar cicilannya. Dan HARI INI, 6 tahun setelah kalimat itu terucap, Allah cukupkan tabungan kami untuk mulai memproses pelunasannya. MasyaAllah, Alhamdulillah. Di saat pandemi ini, Allah malah kasih kesempatan menabung lebih banyak sehingga ucapan waktu itu bisa diwujudkan.

Dan rasa haru saya tidak berhenti di situ.

Pengen haji di umur 40, deh! β€” kata saya dulu kepada SEMUA orang yang pergi ke Tanah Suci. Hari ini, di usia 36 tahun, saya dan suami sudah bisa fokus menabung untuk haji karena kami sudah tidak punya cicilan rumah. Bismillah, semoga Allah mengizinkan dan memampukan.

Saya ga pernah nyangka, akan tiba di titik ini. Di mana impian untuk berhaji bisa mulai diwujudkan sedikit demi sedikit. Kenapa 40 tahun, sih? Karena berhaji membutuhkan stamina dan fisik yang kuat. Selain itu, ketika umur 40 seharusnya anak-anak sudah cukup umur juga untuk ditinggal agak lama oleh orangtuanya. Itu pendapat pribadi saya loh yaa..

Ya Allah, nulisnya aja gemeter sebadan. πŸ₯²

Doakan saya dan suami yaaa.. Kami cuma bisa ikhtiar kumpulin dananya, tapi panggilan ke sana adalah hak prerogatif dari pemilikNya.

Ga bosan saya mengingatkan. Berniat baik, ucapkan yang baik, usahakan dengan cara yang baik. Doa saya untuk semua yang membaca, semoga Allah izinkan dan mudahkan. Pun jika tidak, yakinlah Dia punya yang lebih baik dari apa yang kita inginkan. ❀️


Hari ini baca tulisan tentang memberikan kata-kata baik untuk hati kita sehingga hati tidak punya tempat untuk kata-kata buruk. Saya pun teringat obrolan saya sama bibi ART beberapa hari lalu.

Me: Bi, sekarang kan masuknya jarang-jarang. Terus di rumah ngapain aja?

Her: lumayan, Non. Bibi jadi bisa ngaji, minimal 2 juz per hari.

Saya yang awalnya sempet berniat memotong gajinya karena hanya masuk 2-4x sebulan cuma bisa termangu. Dengan gaji normal, saya memang tidak mendapatkan tenaga harian si bibi. Tapi ketika saya memudahkan bibi untuk bisa banyak mengaji, bukankah saya sama sekali tidak merugi? Bukankah Allah berjanji akan memudahkan kita ketika kita memudahkan orang lain dalam kebaikan?

Ada juga kejadian semalam. Seharusnya saya menuntut ilmu dengan les bahasa Arab. Tapi saya memilih ikut kajian karena sedang lelah sekali rasanya. Apa yang saya dapatkan? Support dari Allah SWT melalui Pak Ustadz yang membahas perkataan Rasulullah terhadap Fatimah ra ketika anaknya itu mengeluh lelah mengurus rumah.

Mendekatlah pada kebaikan. Sekecil apapun. Kebaikan dalam standar Allah SWT tentunya.

Jika bisa, berlaku baik.

Jika belum bisa berlaku baik, bertuturlah yang baik.

Jika belum bisa bertutur baik, berniat/berpikirlah yang baik.

Jika belum bisa juga, alihkan fokus sebelum terpikir sesuatu yang buruk.

Saya ingat Ustadz Nuzul Dzikri pernah menjelaskan dalam salah satu kajiannya tentang cara terbaik untuk TIDAK menjadi orang dzalim adalah dengan memenuhi hak orang lain, ikhlas karena Allah SWT.

Tunaikan hak suami, biar Allah yang memenuhi hak kita sebagai istri.

Tunaikan hak anak, biar Allah yang memenuhi hak kita sebagai orangtua.

Tunaikan hak orangtua, biar Allah yang memenuhi hak kita sebagai anak.

Tunaikan hak pegawai kita, biar Allah yang memenuhi hak kita sebagai pemberi kerja.

Fokus sama hak orang lain, Allah akan fokus sama hak kita.

Saya mencoba menjalaninya sejak mendengar kajian itu. Tentu masih terseok dan tertatih. Jauh sekali dari sempurna, namanya juga manusia yang seringnya egois. Tapi MasyaAllah, dalam perjalanannya, memang Allah rasanya selalu hadir untuk saya yang lebih kecil dari atom di mataNya.

Tulisan ini adalah pengingat untuk diri sendiri. Mendekati kebaikan tidak akan berujung dengan mendapatkan keburukan. SELALU ada hal baik yang menanti, meskipun mungkin tidak langsung terlihat atau terasa.

Stay healthy, stay safe, and stay kind!


Hari ini saya mengibarkan bendera putih untuk program olahraga rutin selama 30 hari. Hari ini hari ke 16, tapi karena 1 dan lain hal tidak terlaksana. Muncul rasa gagal dan kesal sama diri sendiri. Tanggung, sudah setengah perjalanan. Harusnya bisa dipaksakan.

Hari ini juga meliburkan diri (lagi) dari les bahasa Arab intensif. Padahal baru juga masuk hari ke 7 dari 20 hari yang semestinya. Rasanya ga berenergi aja untuk belajar.

Hari ini pula, di jam yang seharusnya les, saya ikut kajian. MasyaAllah, bahasannya paaaass banget dengan apa yang lagi dirasakan hari ini.

Kajian Mutiara Kerang – 03.08.2021

Ya, hari ini saya lagi lelah sekali mengurus semuanya. Lalu Allah SWT β€œmerangkul” saya dengan membuat saya mengikuti kajian ini. Kajian yang mengingatkan tentang pahala dari peran saya di rumah ini. MasyaAllah, sempet netes airmata pas Ustadz mengeluarkan materi ini. Yakin, ini bukan sebuah kebetulan. Allah hanya ingin menunjukkan bahwa Dia tahu saya lelah dan Dia ingin mengingatkan bahwa lelah itu tidak sia-sia.

Tulisan ini adalah pengingat, di saat saya kecewa dengan rencana yang tak berjalan sesuai harapan, coba tenang sejenak dan rasakan, ada Allah yang ingin mengingatkan bahwa Dia selalu ada.


Selamat Idul Adha!

Meskipun sudah 2 hari yang lalu, tapi tentu kita semua masih dalam suasana Lebaran yaa.. Semoga kita, terutama umat Islam, bisa mengikuti keimanan, ketaatan dan kesabaran Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menjalankan perintah Allah SWT.

Kurban tahun ini terasa spesial sekali. Alhamdulillah, tahun ini untuk pertama kalinya keluarga kami bisa kurban sapi. Masih jelas dalam ingatan, tahun lalu si Kakak kepengen banget kurban sapi warna putih. Tentu dia tidak paham bahwa itu lumayan harganya. Yang dia tahu, kasih makan sapi lebih seru daripada kasih makan kambing. πŸ˜‚

Akhirnya kami berhitung, lalu dengan mengucap Bismillah, kami iya-kan ucapannya. Tak lupa sambil mengajak si Kakak untuk minta sama Allah SWT β€” berulang-ulang β€” agar mencukupkan rezeki untuk memenuhi permintaannya.

Kurban sapi pertama! πŸ’š

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Seekor sapi berukuran lumayan dan berwarna putih sudah disembelih kemarin. Sayang, karena kita masih dalam suasana PPKM Darurat, kami tidak bisa ke kandang untuk memberi makan sapi seperti yang sudah Kakak idamkan sejak tahun lalu.

Tapi gak apa-apa lah yaa.. Alhamdulillah, ucapan baik selama setahun diijabah Allah SWT. Allah cukupkan rezeki kami. Dan Allah lapangkan hati kami untuk menunaikan janji kami.

Semoga tulisan ini tidak terkesan riya. Ini murni hanya berbagi kebahagiaan. Dan untuk saya pribadi, semoga tulisan ini menjadi pengingat untuk terus berkata yang baik-baik. Semoga Allah menjaga lisan kita semua. Aamiin.


11 Juli 2021.

Hari ini masih pandemi. Setelah 1 tahun 4 bulan sejak diterapkannya PSBB untuk pertama kali, kita masih harus menjalani bekerja dan belajar dari rumah. Saat ini kita memasuki minggu kedua PPKM Darurat karena kasus harian melonjak tajam di rata-rata 35.000 per hari. Kematian harian tembus angka 1000. Target vaksinasi 1 juta dosis per hari masih belum tercapai, dan meskipun 2 hari terakhir angka kesembuhan meningkat, tetap masih di bawah yang positif.

Postingan terakhir sebelum ini adalah tentang saya kehilangan Age, kakaknya mama. Minggu lalu keluarga saya kembali berduka. Adik ipar mama saya kalah oleh Covid19 dalam kondisi isoman di rumahnya. Tiada hari tanpa berita duka. Tiada hari tanpa ada postingan butuh plasma darah atau butuh tabung oksigen. Tenda darurat sudah dibangun di halaman beberapa RS, dan tante saya rahimahullah termasuk yang merasakan ditolak oleh beberapa RS karena mereka pun sudah kewalahan.

Lelah sekali melihatnya. Lelah karena merasa tidak berdaya. Hanya bisa menyebut nama Allah. Mendoakan semoga Allah menguatkan kita semua. Agar yang sakit diberi kekuatan untuk ikhlas. Keluarga dari si sakit diberi kekuatan mengurus. Dan bagi kita yang sehat, diberikan kekuatan untuk membantu sekecil apapun.

Ingin sekali bisa menolong semuanya, ya Allah. Tapi tentu saja gak mungkin bisa.

Stay strong, Semua! Stay healthy. Stay sane. Stay at home if you can.