Bitter. Sweet. Sour. Spicy.


Happy birthday!

This past year has been tough on you. Life has surprised you in unfavorable ways through your loved ones that you can no longer hold the tears especially when you’re alone.

It’s okay. You still live your life anyway. Did your roles as a mom, a wife and a daughter whole-heartedly. You were great. You ARE great! And I love you for being strong like always.

You’re a year older now. Getting closer to your end of time in this world. I wish you could spend more time with Allah. Perform a better shalat, tadarus and anything that can make Him happy so later He will grant you with jannah. Always do good. Always be kind. Always remember to depend on Allah and only Allah. Never rely on His creatures, not even yourself. Remember:

So once again, happy birthday. I love you and I’m writing this in tears because I just realize how rare it is for me to say it to you.

I love you, beautiful soul. May Allah always protect you. I love you, Beriozka Anita. ❤️


Saya dan ASI. Ceritanya ternyata masih belum berakhir. Hari ini tanggal 11 Juli 2022, sudah sebulan lebih usia si bayi. Minggu lalu saya ingin mengambil langkah yang cukup ekstrim: rawat inap untuk relaktasi. Setelah mencari info dan referensi, saya mulai menghubungi RS yang menyediakan fasilitas tersebut. Tapi ternyata kondisi saya masih belum terlalu “parah” . Saya baru paham kalau rawat inap relaktasi diperuntukkan bagi mereka yang; 1. ASInya sudah kering sama sekali dan 2. Bayi bingung puting total. Kondisi saya Alhamdulillah masih keluar ASI dan bayi masih mau menyusu langsung.

Tapi dari hasil research itu, saya jadi menemukan blog ibu-ibu yang menjalani relaktasi dan cerita mereka tentang metode yang dilakukan. Salah satunya adalah dengan menggunakan SNS; supplemental nursing system.

Sumber gambar: https://images.app.goo.gl/32SchQBzicwkXF6w5

Jadi, susu dimasukkan ke dalam wadah yang sudah ada selang untuk ditempel ke puting. Lalu nanti ketika bayi menghisap puting, dia akan sekalian menghisap susu tersebut. Kondisi ini akan membuat payudara ibu terstimulasi sekaligus bayi akan merasa kenyang karena double-intake susu dari payudara DAN dari selang. Dalam kasus saya, bayi saya pun akan terstimulasi otot menyedotnya.

Akhirnya saya pun memutuskan untuk mencoba metode ini dengan alasan utama: supaya gak perlu pumping lagi. Tentunya saya sudah berkonsultasi dengan konselor laktasi saya, yaa..

Hari pertama saya coba SNS setiap menyusui. Jujur kagok banget karena masukin puting + selang tidak semudah itu! Setiap menyusu, saya bikin sufor 30ml. Anggap saja payudara saya tidak ada isinya, kurang lebih demikian. Ternyata, susu itu tidak selalu habis. Sehingga di hari kedua, saya ubah urutannya. Bayi menyusu dulu, baru ketika dia masih cranky, saya bikin sufor. Hitung-hitung stimulasi tambahan di saat payudara sudah kempes dikosongkan di awal. Lumayan, hanya butuh 3x SNS @ 30 ml dan itu pun tidak selalu habis. Saya juga bisa merasakan daya hisap bayi saya semakin kuat. Jujur, bahagia banget bisa menyusui langsung setelah sebelumnya harus dipompa dan kasih pakai dot.

Tadinya goal saya adalah lepas dot. Tapi realitanya, tengah malam saat bayi kehausan dan saya sudah ngantuk tak tertahankan, SNS terasa agak merepotkan. Akhirnya saya memutuskan, kalau malam tetap pakai dot. Biar bisa gantian bangun juga sama suami.

Alhamdulillah, malam yang biasanya bisa 3x minum sekarang sudah turun ke 1-2x. Siang pun suplementasi cukup 2x. Overall, sufor yang terpakai hanya 120-150ml. Sebuah kemajuan besar mengingat seminggu pertama bayi saya bisa dibilang full sufor, apalagi pas dirawat di NICU. Sehari dia bisa minum 8-9x @ 60ml. Oia, selama menerapkan metode ini, berat badannya selalu saya pantau dan kenaikannya bisa dibilang stabil. Memang tidak sebanyak ketika full sufor yang bisa naik 100gr per hari, tapi batas minimum kenaikan BB bayi adalah 20-30gr dan dia selalu naik di atas angka tersebut.

Saat ini saya masih meneruskan SNS. Karena jika badan saya cape atau saya stress, produksi langsung menurun dan saya butuh sufor lebih banyak. Tapi gpp, baru masuk minggu kedua. Kalau konsisten, InsyaAllah hasilnya akan baik. Tapi kalau pun (lagi-lagi) tidak sesuai harapan, semoga Allah SWT tetap mencatat usaha saya sebagai pemberat timbangan amal.

Pagi ini saya agak down karena semalam bayi saya rewel ga karuan. Dari yang udah bisa 120 ml per hari, kmaren melonjak 2x lipat. Tapi setelah menuliskan cerita di atas, rasanya saya tetap harus bersyukur karena “gagal” sehari itu tidak apa-apa.

Bismillah, semoga saya bisa selalu ikhlas saat harus mengambil jeda dan rehat sejenak. Aamiin.

Menyusui itu tidak pernah mudah. Jika di sekeliling kalian ada ibu yang baru melahirkan dan berjuang dalam proses menyusuinya, temani mereka yah! They probably won’t ask for it, but they definitely need it. ❤️


AllahuAkbar AllahuAkbar AllahuAkbar!

Rasanya masih kayak mimpi ketika kemarin saya dan suami membayar DP untuk perjalanan haji. 🥲🥲

Allah Maha Baik sudah memudahkan kami mengumpulkan DP dalam waktu kurang dari setahun. Tidak bisa masuk dalam logika perhitungan kami, tapi MasyaAllah, Allah SWT cukupkan.

Saya pernah bercerita di salah satu postingan saya, bahwa saya selalu berdoa/titip doa agar bisa pergi haji di usia 40. Alasannya sederhana: ingin punya tubuh yang masih bugar saat beribadah. Agar bisa optimal melaksanakan semuanya. Doa itu yang selalu saya titipkan juga ke setiap orang yang pergi ke tanah suci. MasyaAllah, di usia 37, langkah pertama sudah bisa diambil.

Kemarin di tempat pendaftaran, saya dijelaskan oleh petugasnya bahwa masa tunggu saat ini adalah 6-7 tahun. Sebenarnya dulu masa tunggu itu hanya 2-3 tahun, namun karena ada pekerjaan perluasan Masjidil Haram, kuota haji dikurangi sehingga masa tunggu jadi lebih panjang. Tahun 2019 (kalau gak salah), kuota haji sudah lebih banyak. Masa tunggu pun bisa kembali lebih cepat. Tapi pandemi datang, sehingga saat ini estimasinya masih di kisaran 6-7 tahun.

Namun demikian, petugasnya menjelaskan bahwa kemungkinan untuk berangkat lebih cepat selalu ada. Karena setiap tahun pasti ada yang berhalangan dan setiap tahun pula ada kuota cadangan yang bisa digunakan.

Harapan saya untuk bisa pergi di usia 40 pun masih terlihat terang di depan mata. Bismillah, semoga Allah SWT berkenan mengabulkannya.

Jika nanti benar saya berangkat di usia 40, biarlah postingan ini sebagai saksi digital bahwa niat baik – ucapan baik – doa baik tidak pernah menimbulkan kerugian. Karena Allah SWT adalah sesuai prasangka hambaNya.

Namun jika rejeki saya berangkat di 6-7 tahun mendatang, InsyaAllah saya yakin itu adalah jalan terbaik dari Allah SWT. Naik haji di usia 40an. 😆

Saya doakan semoga yang membaca tulisan ini pun dimudahkan Allah SWT dalam mewujudkan impiannya. Niatkan dalam hati, ucapkan dengan sering dan tentu ulangi dalam doa yang berkali-kali. Segala niat baik karena Allah, InsyaAllah apapun hasilnya akan baik juga untuk kita. Aamiin!

Daftar haji di bulan haji? ✅

Alhamdulillah. ❤️


3 minggu sudah saya berjibaku dengan produksi ASI. Sudah minum booster, makan (BANYAK), minum air putih, pijat laktasi, ikut workshop sampai booking homecare dengan salah satu konselor laktasi.

Pumping per 3 jam. Bahkan pernah per 2 jam. Kurang tidur, badan pegel, tapi yang bikin nangis hampir setiap hari: hasilnya masih belum cukup untuk bayi saya yang setiap minum butuh minimal 60ml.

Saya juga gak tau salahnya di mana. Secara teori, semua yang saya terapkan seharusnya menghasilkan outcome yang memuaskan. Tetapi Allah Maha Kuasa. Cuma Dia yang bisa menentukan hasil seperti apa yang akan saya terima, tanpa harus saya pahami kenapa hasilnya tidak sesuai ekspektasi.

Saya yakin dan percaya ketentuanNya adalah yang terbaik. Tapi saya hanya manusia yang bisa sedih dan kecewa. Drama per-ASI-an ini selalu terjadi pasca saya melahirkan. SELALU. Di saat saya pikir saya sudah bersiap akan segala kemungkinan, Subhanallah, Allah punya kejutan lain yang membuat saya kembali berjuang untuk mengASIhi bayi saya.

Rasanya lancang untuk mempertanyakan “kenapa begini lagi?” , tapi ya Allah, Engkau Maha Tahu betapa remuk hati saya karena lagi-lagi ga mampu memenuhi kebutuhan bayi saya. Meskipun memberikan susu formula bukan sebuah dosa, hati kecil saya masih berharap saya tidak memerlukan itu untuk mengenyangkan perut bayi saya.

Jujur rasanya ingin menyerah. Tapi apakah pantas, di saat usia bayi saya belum genap sebulan?

I repeatedly told myself:

You’ve done your best. Like you always did.”

Sebaris kalimat yang selalu saya ucapkan dengan linangan airmata. Mencoba untuk tidak merasa gagal. Mencoba untuk tetap menghargai diri sendiri. Mencoba untuk tidak menghukum diri atas hasil yang di luar ekspektasi.

Semoga Allah SWT mencatat usaha ini. Bahwa saya masih melangkah maju, terlepas berapapun hasil yang ada di dalam botol itu. Dan semoga susu formula yang saya berikan menjadi kebaikan penuh manfaat bagi bayi saya. Aamiin.


Wah! Ternyata seharusnya saya lahiran hari ini! Karena secara hitungan, usia kehamilan sudah lebih dari 37 minggu dan ini adalah tanggal cantik 22.6.22! Tapi biidznillah Allah berkehendak lain, bayi ganteng sudah hadir di dunia, tepat 2 minggu yang lalu. Alhamdulillah, perhitungan Allah tidak pernah salah. Karena dengan demikian, ketika para Kakak masuk tahun ajaran baru, saya sudah melewati masa 40 hari dan InsyaAllah siap menjalani peran “macan ternak” lagi. Sekali lagi, Alhamdulillah. ❤️

Tapi itu berarti sudah 2 minggu juga bayi ganteng mengkonsumsi sufor. Sampai sekarang saya masih berusaha untuk menaikkan produksi ASI agar bisa mencukupi kebutuhannya. Lumayan, dari yang full sufor, sekarang bisa 50:50 komposisinya.

Tapi perjalanan menyusui ini memang tidak mudah. Entah karena masih ada sisa trauma dari 2 perjalanan sebelumnya (ya, perjalanan menyusui saya SELALU penuh drama. Subhanallah.), atau karena badan saya masih lelah saja. Kemarin saya merasa ingin menyerah. Pumping per 3 jam dengan hasil yang segitu-segitu aja rasanya malah bikin sedih. Padahal udah seminggu lebih menjalani rutinitas itu. Saya lupa, hasil yang “segitu-segitu saja” sebenernya sudah meningkat jika dibandingkan dengan hari pertama. Bayangkan, untuk mengumpulkan ASI, saya harus menggunakan spuit 1 cc dan hanya bisa terkumpul 0,3 cc saja!

Sebuah pengingat, ini adalah titik awal perjalanan mengASIhi yang ketiga.

Lalu saya ikut workshop menyusui. Setelah saya dalami materinya, ternyata saya termasuk kategori under supply dan sebaiknya saya mengosongkan payudara per 2 jam. Saya pun mencoba melakukannya. Seharusnya hari ini masuk hari ketiga tapi tampaknya saya menyerah. Pumping setiap 2 jam tidak hanya membuat badan lebih cape, tapi saya juga tidak punya waktu untuk para kakak yang sudah sedemikian pengertiannya.

Jujur, semalam rasanya otak saya hampir kalah. Seperti tergulung perasaan suram karena untuk ketiga kalinya saya gagal menyusui secara eksklusif. Sempat terpikir melakukan tindakan ekstrim: stop sufor dan menyusui langsung, apapun resikonya. Tapi saya tahu, badan saya dan badan bayi akan babak belur seada-adanya.

Di satu sisi saya terpikir untuk full sufor saja. Setidaknya ga perlu merasakan lelah fisik akibat jadwal pumping, sekaligus lelah batin karena hasilnya belum cukup untuk bayi. Tapi jujur, saya gak siap kalau kelak ditanya Allah: kenapa berhenti? Bukankah payudara diciptakan untuk menyusui? Berhenti di minggu kedua, sementara menyusui disarankan selama 2 tahun? Rasanya masih terlalu dini.

So here I am, rant out my thoughts at 07.21 AM. Sleep deprived but happy to see my baby grow bigger and healthy.

Semoga Allah SWT selalu menjaga saya dari pikiran kalut dan gundah. Karena sebagai manusia lemah, saya hanya bisa berusaha. Hasilnya mutlak ada di tanganNya.

Semoga Allah SWT selalu meridhoi waktu, tenaga, rasa pegal dan airmata yang keluar dalam perjalanan menyusui kali ini. Menguatkan saat saya rapuh. Menghadirkan harapan saat saya merasa buntu.

Karena, ya Allah, saya hanya ingin menjalankan perintahMu: menyusui hamba titipanMu.


Terima kasih ya Allah..

Hidupku rasanya kaya sekali.

Merasakan persalinan normal dan caesar.

Dianugerahi anak perempuan dan laki-laki.

Melalui baby blues, stress biasa dan legowo-legowo aja.

Dari full diurusin mama pasca lahiran sampai bisa urus 3 anak sendiri ketika suami ke kantor dan bibi sudah pulang.

Menjalani hidup tanpa berpikir terlalu jauh. Jalani yang di depan mata dengan kesadaran penuh, tanpa berandai jika kondisinya berbeda.

Terima kasih ya Allah..

Sudah menuntunku untuk memeluk diri sendiri. Memberi apresiasi setulus hati, hingga tak terasa airmata mengalir. Mengingatkan jiwa untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri karena sadar, aku sudah melakukan yang terbaik.

Terima kasih ya Allah..

Hidupku rasanya lengkap dan cukup sekali. Ku mohon, anugerahilah rasa yang sama kepada suami dan anak-anakku. Agar kami senantiasa menghargai keberadaan satu sama lain. Agar kami bisa bersama di dunia, hingga ke surga Adn-Mu nanti. Aamiin.


Allahumma yassir wala tu’assir.

Ya Allah, mudahkanlah dan jangan Engkau persulit.

Hari Rabu, 8 Juni 2022. Kalimat itu tidak henti saya rapalkan sepanjang jalan dari kamar perawatan menuju ruang operasi. Jam 4 pagi itu, saya sudah dipersiapkan untuk menjalani operasi sectio caesaria CITO. Semua terasa menegangkan buat saya yang sama sekali belum pernah operasi. Apalagi kondisinya emergency. Di usia kehamilan yang baru 35 minggu, bayi saya terpaksa harus dilahirkan karena 3 CTG di malam sebelumnya menunjukkan detak jantung bayi melemah dan bayi semakin tidak responsif.

Saya ulang-ulang kalimat itu dengan penuh keyakinan. Di sambung dengan Laa hawlaa walaquwwata illa billah. Sambil membayangkan nanti akan seperti apa di ruang operasi pun sampai pasca persalinan. Membayangkan bisa menjalani sebuah pengalaman baru karena sebelumnya menjalani proses persalinan normal.

Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Saat saya sudah selesai di epidural, suster masuk dan menginfokan bahwa suami saya tidak bisa masuk untuk menemani. Saya mendadak panik, tapi Allah Maha Besar, saya sekaligus dibuat ngantuk luar biasa. Saya hanya ingat obgyn saya masuk untuk ajak berdoa, lalu saya setengah sadar mendengar perawat bilang “selamat, anaknya sudah lahir” dan terdengar tangisan dari arah belakang kepala saya. Selebihnya saya tidak ingat. Bahkan saya gak tau kalau bayinya sudah skin to skin sekitar 10 menit.

Ketika dibawa ke ruang observasi, saya cuma sempet minta cariin suami saya dan memastikan bahwa kondisi bayi saya aman. Maklum, sebelum operasi kami sudah tanda tangan persiapan NICU, ventilator dan alat bantu lainnya untuk jaga-jaga jika kondisi bayi mengkhawatirkan. Begitu suami saya bilang bayinya diobservasi di kamar bayi reguler, MasyaAllah lega sekali rasanya! Saya pun tidur lagi. Tidur-bangun berulang kali sampai efek pasca operasi seperti mual, muntah dan menggigil tidak terjadi pada saya. Alhamdulillah.

Saat ini, sudah 2×24 jam pasca persalinan. Qadarullah, ASI saya bisa dibilang belum keluar. Baru 0,4 ml kalau dicoba keluarkan pakai tangan. Media pengumpulnya pun cuma spuit 1cc yang tentu ga terisi penuh. Kondisi bayi sudah dibantu sufor karena hipoglikemi.

Herannya, saya tidak baby blues dengan kondisi ini. Yang sudah lama mengenal saya, terutama yang mengikuti dari persalinan anak pertama, pasti tahu bagaimana stressnya saya dengan isu menyusui. Dua kali sebelumnya, saya stress gak karuan karena merasa gagal untuk ASI eksklusif. Padahal ujung-ujungnya sukses menyusui sampai 2,5 tahun. Tapi drama menyusui di bulan-bulan awal benar-benar menyiksa bukan cuma saya tapi seluruh keluarga.

Allahumma yassir wala tu’asir.

Hari ini saya paham, kadang jalan Allah untuk memudahkan urusan hambaNya adalah dengan melapangkan hatinya. Tidak dipersulit ketika menerima kenyataan yang tak sesuai harapannya. AllahuAkbar.

Dan barusan, DSA si bayi datang. Bayi boleh pulang tapi dia wanti-wanti sekali jangan sampai tidak diminum sufornya hanya demi idealisme ASI Eksklusif. Karena kondisi badannya saat ini tidak ideal, maka kita harus mau menerima bantuan yang diperlukan. Dengan berat yang kecil dan umur kelahiran yang kurang, saya diingatkan untuk tidak menyamakan kondisinya dengan bayi normal yang lain.

Bismillah ya, Nak.

InsyaAllah kali ini Mama ikhlas. Yang penting kita sehat semua, lahir dan batin! ❤️

Let’s face the world together, my baby boy!


Semakin hari, saya semakin menyadari kalau saya tidak bisa mengatur segala hal. Well, tentu saja saya sudah tahu. Tapi untuk benar-benar paham ternyata butuh waktu.

Saya yakin saya tidak sendirian ketika berpikiran ingin melindungi orang-orang yang saya sayangi dari berbuat kesalahan yang gak perlu. Mencoba mencegah sebelum terjatuh. Dan menarik sebelum salah arah terlalu jauh. Tapi siapa lah saya? Hanya manusia yang SANGAT lemah dan penuh keterbatasan.

Sebulan terakhir banyak kejutan di hidup saya. Hal yang saya pikir saya tahu, ternyata sebagiannya semu. Sesuatu yang saya pikir bisa saya kendalikan, ternyata tidak sesuai harapan. Saya pun merasa seperti mengambang. Bingung mendefinisikan apa yang saya rasa. Kaget, sedih, marah, takut tapi yang jelas bukan bahagia atau suka cita.

Saya belajar untuk meresapi makna “laa hawla walaaquwwata illa billah”. Bahwa tidak ada daya dan upaya selain dengan pertolongan Allah SWT.

Saya belajar meyakini surat Ar-Radu ayat 28, bahwa hanya dengan mengingat Allah SWT maka hati akan menjadi tenteram.

Saya belajar mengafirmasi janji Allah SWT bahwa apa yang tampak buruk bisa jadi mendatangkan kebaikan. Begitu pula sebaliknya. Karena bagaimanapun, tidak ada skenario hidup yang lebih baik daripada yang telah dituliskanNya.

Apakah itu cukup? PASTI cukup.

Tapi apakah hasilnya instan? Oh tunggu dulu~

Sebulan ini, grafik emosi saya benar-benar naik-turun secara drastis. Saat saya bisa menatanya, Allah hadirkan lagi kejutan yang baru. Begitu terus sampai beberapa kali. Lelah lahir batin karena selain kurang tidur dan menangis, saya juga jadi overthinking.

Lalu apa inti postingan ini?

Gak ada sih kayaknya~ 😅

Hanya butuh mengeluarkan energi aja biar sedikit lebih lega. Biarlah ini menjadi jejak hidup bahwa saya pernah ada di fase ini. Sedikit harapan di kemudian hari ketika saya membacanya kembali, saya telah bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik hasil dari kejutan-kejutan Allah saat ini. Aamiin.

Inget ya, Ozka: All you have to do is try to do your best. Manusia yang bisa berproses dan berusaha, tapi hasil adalah mutlak kuasa Allah SWT.

Hasil yang sesuai harapan berarti sesuai dengan rencana Allah SWT.

Hasil yang bertentangan dengan harapan berarti bentuk perlindungan Allah SWT.

Manusia kodratnya lemah dan tak berdaya. Dan kamu, Ozka, hanyalah manusia.


My dear imam..

Hampir 20 tahun mengenal kamu, di mana setengah masanya kita terikat dalam pernikahan. Dari bikin dosa bareng sampai ngumpulin pahala bareng. 😝

Definisi sesungguhnya mulai dari nol. Dari tinggal nomaden di rumah orangtua, mengontrak, sampai punya rumah sendiri.

Dari mie tektek sepiring berdua untuk makan malam, atau bahkan bungkus katering kantor demi pengiritan. Gak cuma sekali kateringnya keburu basi pas udah sampai rumah. 🥲 Sekarang Alhamdulillah bisa makan tanpa banyak perhitungan.

Dari cuma bisa menabung untuk keperluan sendiri, sampai bisa membantu orang lain yang membutuhkan. Apalagi di 2 tahun terakhir, Allah Maha Baik memenuhi mimpi-mimpi kita. Bukan cuma materi, tapi InsyaAllah kehadiran bayi laki-laki yang akan membuat keluarga kita semakin lengkap sesuai harapan.

Tapi segala nikmat tentu datang dengan konsekunsi. Kata orang, semakin tinggi pohon, semakin kencang anginnya. Mereka juga bilang, ujian yang paling berat adalah ujian kenikmatan karena akan membuat kita terlena.

Doaku untuk kamu: semoga kamu dikuatkan dalam menghadapi angin, badai, topan, hama, dan segala gangguan yang ada. Semoga akar keimananmu tetap kuat mencengkeram jalan Allah SWT. Jadilah pohon tinggi dan besar yang mengayomi dan memberi perlindungan, terutama bagi kami yang mensupport dari rumah.

Semoga kamu selalu ingat, apa yang kita punya saat ini sudah cukup untuk membuat bahagia. Yang penting kita semua sehat, dan punya waktu untuk dinikmati bersama.

Semoga Allah SWT memudahkan dan menguatkan kamu dalam menjadi pemimpin keluarga ini, di dunia dan akhirat.

Aamiin.

Do remember that you’re never alone, because it’s always us against the world! 💪🏻


Saat ini pukul 05.06 dini hari.

Di tengah gelombang perasaan yang tidak menentu, Allah SWT hadir untuk mengingatkanku:

Lebih dari 6000 ayat dan “jatah” baca hari ini jatuh kepada ayat ini. Ambillah jalan kepada Tuhan untuk kebaikan diri kita sendiri.

AllahuAkbar.

Terima kasih sudah menyapaku pagi ini, Yaa Allah Yaa Rahman Yaa Rahim. Kuatkan aku untuk tetap berusaha menjadi baik karenaMu. Biarlah hal tidak baik dari orang lain yang menimpaku menjadi urusan mereka denganMu. Engkau sebaik-baiknya pelindung, sebaik-baiknya tempat mengadu.

Catch me on..