Bitter. Sweet. Sour. Spicy.


Hari ini (dan beberapa hari sebelum ini, jelang bulan Ramadhan), salah satu WAGroup ibu-ibu ramai dengan pembahasan infal babysitter dan ART. Gw pun lumayan shock ketika tahu rate mereka. Harganya variasi antara 150 – 300 ribu PER HARI dan minimal kontrak kerjanya adalah 10 hari. Basically, perhitungan rate harian adalah 10% dari gaji bulanan mereka. 

Yang menarik, infalan ternyata ga melulu orang baru yang akan menggantikan pekerja tetap di rumah kita. Bisa aja orangnya sama alias pekerja tersebut ga mudik, tapi kita dikenakan tarif infalan. Nah, buat mereka-mereka ini, pas gajian akan dapat: 1x gaji + 10 hari gaji infal (setara dengan 1x gaji) + THR (1x gaji kalo udah diatas 1 tahun, prorata kalo dibawah 1 tahun).

Intinya: BANYAK YAAAA YANG HARUS DIBAYAAARR 😅😅😅😅

Misalnya gaji babysitter sekarang rata-rata 3 juta aja, berarti si majikan bisa keluarin dana 9 juta hanya untuk bayar mereka. Itu baru 1 babysitter. Belum kalo ditambah ART atau BS-nya ada lebih dari 1 orang.

Kesimpulannya, kepada para suami, sudah ngerti ya harus kasih THR berapa ke para istri yang udah rela resign dari karirnya demi urus anak dan rumah dan suami? 😝

*postingan “ada udang di balik bakwan” banget ga siiiihh? 😂


Hari ini, 27 Mei 2017, #adekuat udah memasuki usia kandungan sekitar 37 minggu. Lagi-lagi gw dibuat terkesima sama keajaiban kehamilan kedua ini. :’)

*bentar, terharu dulu*

Sejak awal kehamilan, gw bleeding cukup banyak tapi dia tetap bertahan.

Masuk trimester kedua, nafsu makan belum normal, tapi dia tetap bertumbuh sesuai harapan.

Di trimester kedua pula, gw gampang banget ngedrop alias sudah/hampir pingsan. Tensi bawah gw jarang menyentuh angka 60, tapi gw harus tetap beraktivitas ngurusin si kakak les dan sekolah. Alhamdulillah, #adekuat malah masuk kategori besar menurut berat badannya. Alhamdulillah juga, sejak minggu lalu tensi gw udah stabil di angka 110/70.

Minggu ke 28 posisinya masih sungsang dimana kaki di bawah dan kepala di atas. Posisi ini masih bertahan hingga minggu ke 32. Gw udah mulai khawatir, tapi menurut dokter, doula dan instruktur yoga, posisinya masih sangat mungkin berubah. Ternyata ketuban gw cukup banyak, sehingga #adekuat masih leluasa berenang-renang di perut emaknya. Alhamdulillah, di minggu ke 34, posisinya sudah sesuai sebagaimana mestinya.

Minggu lalu, usia kandungan 36 minggu, dia memberi kejutan dengan kenyataan bahwa beratnya hampir mencapai 3100 gram. Posisi lahir sudah ok, tapi cukup menimbulkan kekhawatiran karena kalau pertumbuhannya begini terus (naik 300gr/minggu), bisa-bisa beratnya diatas 4kg ketika lahir di usia 40 minggu. Untuk gw yang berencana lahir normal, berat segitu cukup bikin nyali ciut. 😅 Dokter gw yang pro normal sebenernya mo nyuruh diet, tapi dia bingung juga karena berat gw cuma naik sekitar 6kg. Akhirnya dia cuma bilang: “kita lihat perkembangan minggu depan yaaa.”

Jujur, minggu lalu gw sempet galau. Gw takut bayinya kegedean jadi ga bisa lahiran normal. Lalu kalo ga bisa normal, gw berarti harus caesar. Gw takut kalo caesar, proses pemulihan gw akan lebih lama. Kalo gw pulihnya lama, nanti si Kakak bisa terabaikan. Dan sebagainya. Dan sebagainya. Intinya, udah mumet duluan! Lalu gw bilang ke si #adekuat: “Seandainya mau lahir lebih cepat dari 38 minggu, gak apa-apa deh! Lahir minggu depan juga gak apa-apa.” Gw semacam meminta dia untuk cepet lahir supaya ga keburu kegedean di dalam perut.

Hari ini, dia seperti menjawab omongan gw dengan fakta bahwa dia cuma naik 100gr dan posisinya terlentang (yaitu berbalik 180 derajat dari posisi siap lahir minggu lalu)! 😂

Gw merasa hari ini dia minta gw percaya bahwa dia akan lahir normal pada waktunya dengan membuktikan dia cuma naik sedikit, jadi gw ga perlu khawatir tentang berat badannya yang akan luar biasa. Dan posisi telentangnya itu seakan mau bilang kalo dia belum mau lahir sekarang! :’)

Ajaib kan? MasyaAllah :’)

Maafin Mama karena sempat meragukanmu. Bismillah, semoga rencana kita sesuai dengan rencana Allah SWT, ya, Dek! Stay healthy and strong, take your time, I’m ready whenever you are! 😘


Sudah beberapa kali gw pengen nulis tentang bahagia yang hadir dari hal sederhana. Tapi otak ibu hamil yang sudah menyusut ini kadang lebih ingat sama order tukang pijit dibanding nulis di blog. 😌

Pagi ini, just now, ada tetangga yang anterin tahu enak sekotak penuh! Ini bikin bahagiaaaa banget memulai minggu setelah long-weekend kemarin! Iya, cuma tahu sekotak, tapi terkadang bahagia muncul karena hal sesederhana itu.

Hal sederhana lain yang bikin gw bahagia terkadang bisa kentut atau urine gw berwarna jernih. Indikator sepele bahwa badan gw cukup sehat ginjal dan sistem pencernaannya.

Lalu ketika gw bisa langsung tidur saat lagi ngantuk-ngantuknya. Ngerti kan rasanya lagi super duper ngantuk tapi harus ditahan karena kondisinya ga memungkinkan untuk tidur? Nah, belakangan ini gw bisa mendapatkan luxury itu dengan mudah! Bahagia kaaaannn? Walaupun cuma ketiduran 20-30 menit, tapi rasanya seger banget pas bangun. ❤️

Gw juga berbahagia masih bisa beli cemilan di indomaret, alfamart dan semua saudara-saudara mereka tanpa lihat barcode harganya! Beli roti atau yakult atau mungkin potabee (ini sejenis chiki-chikian ga sehat tapi lumayan enak, apalagi yang seaweed) yang harganya ga seberapa tapi lumayan kalo lagi butuh buat ngeganjel perut.

Bahagia yang sederhana lainnya adalah punya anak yang agak OCD, jadi rumah gw cukup terjaga kerapihannya karena dia hampir selalu beresin mainan atau buku-bukunya setelah dipakai. Kadang juga nyapu atau ngelap-ngelap lantai kalo ada makanan yang jatuh. Bahagia, rumahnya bersih. Bahagia, anaknya bertanggung jawab.

Di hidup gw sekarang yang cenderung monoton aktifitasnya, didukung dengan kondisi kehamilan yang memaksa gw jadi seperti princess yang ga bisa kecapean sehingga hari-hari gw lebih banyak dihabiskan di rumah, gw merasa  jadi lebih bisa melihat hal-hal kecil yang harus disyukuri.

Bahkan bisa mengubah letak perabotan dan memberi suasana baru di rumah aja bisa membuat gw merasa bahagia! Hihihi.. Alhamdulillah, ternyata nikmat itu memang ga melulu soal uang yang banyak.

How about you, guys?

Kebahagiaan sederhana apa yang sudah kalian syukuri hari ini? 🙂


Disclaimer: gw masih jauh banget dari kategori mukmin yang bisa jadi panutan. Tulisan ini semata untuk mengingatkan gw bahwa panutan yang paling utama dalam menjalankan Islam adalah Nabi Muhammad SAW.

Kemarin, 24 April 2017, Indonesia libur dalam rangka memperingati Isra Mi’raj; peristiwa pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Allah SWT untuk menerima perintah sholat 5 waktu dengan pahala setara 50 waktu. Sebagai umat Islam, gw yakin semua sudah pernah mendengar:

“Dirikanlah sholat, karena sholat mencegah dari perbuatan keji dan munkar.”

Gw ambil gambar ini dari salah satu postingan Path teman gw:


Lalu gw membandingkan dengan apa yang terjadi pada umat Islam saat ini. Umat Islam yang beberapa tokohnya gw yakini lebih rajin dan lebih tepat waktu untuk urusan sholat.

Apakah mereka sudah berbicara dengan lembut?

Apakah mereka sudah berjalan dengan rendah hati?

Apakah mereka sudah berinteraksi dengan sopan?

Apakah mereka sudah berperilaku dengan wajar?

Apakah mereka sudah mencari nafkah dengan jujur?

Dan apakah mereka sudah memperlakukan tetangga/kerabat dengan wajar?

Karena itulah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

Yes, they do ACT fearlessly. But in the name of what? If they act fearlessly in the name of Allah SWT, would it be possible for them NOT TO follow the other 19 points?

Perlu diingat, Nabi Muhammad SAW yang sudah sedemikian hebatnya dalam menjalankan hidup seperti itu pun tidak bisa memaksa Paman kesayangannya untuk memeluk Islam. 

Paman kesayangan, yang rela membela Nabi Muhammad SAW dengan seluruh jiwa dan raganya.

Paman kesayangan, yang terhubung oleh aliran darah yang sama.

Paman kesayangan, yang memberi perlindungan terbaik selama Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam.

Paman kesayangannya itu, tetap meninggal dalam keadaan tidak memeluk agama Islam.

Nabi Muhammad SAW aja tidak bisa mengubah hati paman kesayangannya. Lalu apalah arti kita — yang ga ada seujung kukunya dalam masalah tauhid dan iman — yang mau memaksa orang lain untuk mengikuti kepercayaan kita?

Kita hanya bisa mengingatkan, kita hanya bisa memberitahu. Tapi hidayah untuk membolak-balik hati manusia adalah mutlak kuasa Allah SWT.

Kembali ke sholat.

Di dalam Al-Quran, perintahnya adalah mendirikan sholat. Bukan mengerjakan. Sholat harus didirikan, karena itu adalah tiang agama.

Ketika kita mendirikan sholat, kita akan ingat dengan perjalanan Isra Mi’raj. Kita akan teringat perilaku Nabi Muhammad SAW. Dan buat gw pribadi, gw akan mengingat tulisan gw ini.

Betul, ulama adalah panutan. Ustadz dan Kyai adalah sumber ilmu. Tapi jika panutan mereka bukan Nabi Muhammad SAW, mungkin ada baiknya kita terus mencari tokoh yang mengadopsi pemikiran dan perilaku Junjungan Besar kita.

Jika memang benar kaum kafir menggunakan perang pemikiran (ghazwul fikri) sebagai strategi melumpuhkan umat Islam, mengapa kita tidak melakukan hal yang sama?

Mengapa umat Islam malah melawan dengan perang otot dan kekerasan?

Bukankah ini malah membuktikan akal kita tidak mampu untuk melawan mereka?

Dirikanlah sholat, karena sholat mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar.

Mari kita bela agama Islam dengan mati-matian. Dengan cara yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. 

Dengan lembut, dengan rendah hati, dengan sopan.

Di Indonesia, kita bukan lagi hidup di jaman peperangan dengan menggunakan kuda dan pedang. Gunakanlah akal kita. Jadilah lebih pintar dari mereka yang kita anggap sebagai ancaman. Lalu, serahkan hasilnya kepada Allah SWT. 

Karena betapapun kerasnya usaha kita, kita hanyalah manusia yang lebih kecil dari sebutir pasir di mata Allah SWT. Jangan sombong, karena Dia-lah yang Maha Kuasa menentukan hasil dari ikhtiar kita.

Dirikanlah sholat, karena sholat mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar.

Semoga kita adalah orang-orang yang termasuk di dalamnya. Aamiin.


Hari Selasa kemarin, gw ikut pengajian rutin yang diadakan sebulan 2x. Temanya tentang Pujian dan Hinaan. Dalam menghadapi kedua hal tersebut, manusia terbagi atas 3 golongan. Berhubung gw selalu telat datang karena harus nunggu B pulang sekolah, maka yang masuk ke gw hanya golongan ke-3 yaitu golongan orang arif bijaksana. (Maaf, gw lupa istilahnya dalam bahasa Arab.)

Orang-orang golongan ke-3 ini melihat pujian sebagai bukti kebesaran Allah SWT, sementara hinaan sebagai bukti rendahnya manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT.

Berapa banyak dari kita yang ketika dipuji merasa bahwa pujian itu tidak berhak kita dapatkan?

Berapa banyak dari kita yang ketika dihina bisa berbesar hati mengakui bahwa kita hanyalah manusia lemah yang banyak kekurangan?

I’ll leave those questions untuk dijawab di hati kita masing-masing.

Entah kenapa, kajian kemarin cukup berkesan buat gw. Jujur, gw jadi kurang merhatiin materinya karena ada beberapa saat dimana gw langsung merefleksikan kata-kata Pak Ustad ke dalam kehidupan gw.

Pak Ustad kemarin membahas banyak contoh nyata di kehidupan sehari-hari. Mulai dari post power syndrome hingga ujian tawakal ketika kebanyakan dari kita biasanya langsung memikirkan “manusia” mana yang mau kita mintai tolong ketika kita kesulitan, alih-alih berpikir untuk meminta langsung kepada Allah SWT.

Gw pun langsung teringat cicilan KPR yang oleh beberapa teman diingatkan bahwa dosa riba itu sangat besar ganjarannya.


Ini lingkungan rumah gw. Alhamdulillah udah mau 2 tahun gw tinggal disini. Karena gw masih termasuk golongan menengah ngehek yang belum mampu beli rumah seperti ini dengan tunai, tentunya gw mengandalkan KPR dalam pembiayaannya. Disini, gw mengandalkan “manusia” untuk menolong gw dalam memiliki rumah.

Gw sudah pernah membahas bagaimana usaha gw untuk memperpendek masa KPR gw demi bisa cepat lepas dari yang namanya riba. Dan gw merasa Allah SWT sudah sangat berbaik hati untuk menutupi dosa riba gw dengan menghadirkan orang-orang yang memuji keputusan gw.

Bisa dibilang, 9 dari 10 orang yang pernah berkunjung ke rumah gw berkata “rumahnya enak, ya!” dan biasanya gw akan bilang “iya, alhamdulillah, walaupun masih berjuang sama cicilannya.”

Itu gw, membuka aib gw sendiri, padahal seharusnya gw bisa berhenti setelah gw bilang “alhamdulillah”.

Lalu, dengan rumah yang seperti ini, muncul pujian lain seperti:

  1. Suaminya pasti posisinya bagus ya di kantor, soalnya bisa beli rumah kayak gini.
  2. Enak ya, duitnya banyak. Listriknya pasti mahal kan?
  3. Enak ya, rumahnya lega. 
  4. Dan lain sebagainya.

Alhamdulillah, didoakan seperti itu. Padahal sih, di balik pintu, ada perjuangan tersendiri untuk keberlangsungan hidup yang ga melulu mulus. Hihihi..

Tapi pujian itu kadang membuat gw lupa bahwa Allah SWT sedang menutupi aib gw. Pujian bisa datang karena Allah SWT sedang menunjukkan kebesaran hatinya, dimana saat gw dengan sadar mengambil jalan “dosa”, Dia tetap membuat orang lain melihat hal yang bagus tentang gw. Ini baru 1 perkara pujian yang kemarin sangat mengena di hati gw.

Pujian. Sungguh sebuah cobaan yang melenakan.

Semoga tulisan ini bisa terus jadi pengingat bagi diri gw sendiri. 

Bahwa dengan pujian, seharusnya kita semakin mencintai Allah SWT. 

Bahwa semua pujian adalah hak milik Allah SWT. 

Bahwa lewat pujian, kita bisa menyadari betapa Allah SWT sangat menyayangi kita sehingga Dia tidak rela orang lain melihat aib kita.

Aamiin.



Keterangan aplikasi di foto kiri-kanan: Hypnobirthing, baby tracking, baby names. 


Halo halooo..

Judulnya macam lagu Raisa aja yaa.. Hahaha.. Kali ini gw mo sharing tentang pengalaman kehamilan kedua. Pengalaman trimester awal udah pernah gw tulis, dimana waktu itu gw sempet bleeding sehingga harus bed-rest selama kurang lebih 1 bulan.

Sekarang usia kehamilan gw sudah sekitar 32 minggu. Berat badan udah naik 5,5 kg dengan berat bayi setara dengan kandungan 34 minggu. 

Dulu, gw pikir hamil adalah peristiwa yang ketika terjadi berulang, ceritanya akan sama saja. Tapi ternyata, seperti jatuh cinta, beda orang maka beda juga pengalamannya. #tsedaapp

Kehamilan kedua ini dari segi fisik lebih menantang. Gw lebih gampang dehidrasi sehingga ga bisa kena panas matahari terlalu lama. Literally, kalo gw berjemur pagi lebih dari 10 menit, gw bisa langsung pucat dan mau pingsan. Untuk mengatasinya, gw berusaha untuk minum air putih minimal 3 liter per hari dan semangat mengonsumsi kurma.

Lalu gw juga kurang memperhatikan asupan gw. Selain karena hilangnya nafsu makan di 4-5 bulan pertama, gw juga kayaknya udah cape ngurus si kakak yang umurnya 3,5 tahun. Akhirnya daripada makan, gw lebih milih tidur. Dulu waktu hamil si kakak, gw disiplin banget sama makanan gw. Disini gw suka minta maaf sama #adekuat karena seolah gw ga memperhatikan dia. :’/

Di sisi lain, gw jadi lebih galak ke si kakak. Gw menuntut dia untuk bisa lebih mandiri karena itu akan sangat membantu gw dalam mengurus dia. Gw lupa, si kakak hanyalah anak balita yang masih butuh banyak bantuan dari gw. Untuk anak seumurannya, si kakak sebenernya sudah cukup mandiri dan pengertian atas kondisi gw. Tapi dasar emaknya suka khilaf, kadang gw menganggap dia punya pola pikir yang sama kayak gw. I am so sorry, Kak! :’/

Kehamilan pertama gw sering banget ngalamin kram betis. Kehamilan kedua ini kayaknya masih bisa dihitung pake jari di 1 tangan. Mungkin ini efek ikutan pre-natal yoga sejak usia kandungan 19 minggu.

On the other hand, hamil yang sekarang ini gw beseran paraaaahhh!! Tiada pagi yang gw terbangun tanpa ada sebercak ompol di celana. Waktu hamil pertama, sampe mau lahiran aja ga segitunya amat! Konon sih ini efek dari otot perineum yang digunting ketika persalinan pertama dulu. Makanya gw harus rajin kegel (maksimal 200x/hari) untuk kembali menguatkan otot itu.

Tapi kehamilan kedua pastinya ga selalu negatif yaaa.. Excitement yang gw rasakan sama seperti kehamilan pertama! Bahagianya ada yang tumbuh berkembang di dalam rahim, sensasi tendangan pertama, kekhawatiran akan posisi janin yang sungsang; semua sama. 

Semangat siapin nama, siapin daftar belanja (ya siapa sih perempuan yang ga semangat belanja? 😝), sampe wanti-wanti suami untuk bikin video kelahiran yang ga kesampean di anak pertama.

Sedikit berbeda dengan kehamilan pertama, di kehamilan kedua ini gw ikut kelas Childbirth Education yang diselenggarakan oleh AMANI Birth karena gw punya trauma baby-blues. Selain itu, gw juga lebih punya bayangan mau bawa apa pas persalinan nanti, misalnya diffuser dan essential oil untuk menenangkan gw pas persalinan & untuk membantu mengatasi virus dari luar saat ada yang membesuk bayi.

Yang jelas, kehamilan kedua ini membuat gw semakin enggan untuk membandingkan anak gw dengan anak lain. Ini adek-kakak yang tumbuh di rahim yang sama aja cerita kehamilannya udah berbeda, apalagi sama anak yang beda segala-galanya, ya kan? 😉

Bagaimana dengan fellow moms di luar sana? Ada yang mau berbagi pengalaman? 🙂


Review dikit tentang #SpectacularBazaar yaa.. Gw pergi sama anak gw umur 3,5 tahun dan temen gw yang lagi hamil jalan 8 bulan.
ANTRIAN

Kami sampai di lantai 6 sekitar jam 1. Langsung diarahkan ke antrian khusus ibu hamil diatas 6 bulan, walaupun kayaknya ga mutlak sih. Asal hamil, boleh antri disitu. Di antrian ini boleh ditemani 1 pendamping. 

– antri di lantai 6: 10 menit.

– antri di lantai 7: 10 menit.

– antri di lantai 8: 10 menit. Sembari nunggu, kita dijelasin tentang denah ruangan dan sistem antrian pembayaran. Kita juga dikasih gelang warna-warni sesuai batch masuk. Katanya sih setiap batch hanya dikasih waktu 40 menit, tapi kenyataannya gw 2 jam di dalam masih aman-aman aja.

Antrian khusus ibu hamil hanya ada di lantai 6. Ketika di lantai 7 & 8, antriannya sudah bercampur dengan yang umum.

Total antri sekitar 1/2 jam dengan suasana yang tertib. TAPI, udah sedemikian tertibnya aja masih ada orang-orang yang protes. Contohnya ada 1 ibu-ibu yang “ngajarin” panitia tentang seharusnya mengatur antrian. Intinya dia mau prosesnya lebih cepat. 

Note: hargailah proses antri. Kalo mau nyaman, ga bersaing sama banyak orang, JANGAN BELI DISKONAN, apalagi yang eventnya besar seperti ini.

Jujur gw keki banget sih sama si ibu ini. Ya mungkin dia udah antri lebih lama dari gw karena dia antrinya kan di jalur yang umum. Tapi balik lagi, ini event diskon gede-gedean. Kenyamanan berbelanja jarang berbanding lurus dengan harga yang murah. Gw ga tau sih kemarin horornya seperti apa, tapi yang gw rasain hari ini benar-benar manusiawi banget kok! Jadi kalo masih ada yang protes ya agak kebangetan. 😆

STOK BARANG

Gw dan temen gw memang berniat untuk sekedar refreshing. Kalo nemu barang lucu ya syukur, kalo ngga ya gak apa-apa. Jadi ekspektasi kami ga begitu tinggi. Tujuan kami juga cuma brand Mothercare, jadi cukup efisien lah waktunya. Maklum, bumil kudu fokus biar ga kecapean. Bener aja, barang-barang yang diskon 70% bisa dibilang ga ada. 😝 

Akhirnya gw cuma beli maternity undies (disc. 50%), aksesoris bando/bandana buat si kakak dan si adek (disc. 50%), kaos kaki adek (disc. 50%), dan baju adek (tops, leggings & jaket) yang matching sama punya kakak (disc. 30%). Sengaja beli baju matching karena pas lebaran niatnya mo foto keluarga. Hehehehe..

Note: jumper isi 3 dan isi 5 buat ukuran dibawah 1 tahun udah sangat sedikit stoknya. Banyakan buat diatas 1 tahun dan cuma diskon 30%. Motifnya pun motif lama, bahkan ada motif dari jaman Brinia baru lahir. 

Baju-baju sebenarnya udah dipisahin berdasarkan umur dan gender, tapi thanks to customers, barang-barangnya banyak yang misplaced and even worse beda keterangan ukuran di baju dan hanger. Jadi, telitilah sebelum membeli.

Sekilas melihat ke brand lain, kayaknya juga sedikit yang masih ada diskon 70%. Mungkin karena itu kondisinya cukup kondusif dan ga ada yang rebutan ganas. 😁

PEMBAYARAN

Gw tadi ga ngitung jumlah kasir yang disediakan, tapi sepertinya lebih dari 10 konter. Antrian dipisahkan antara bumil, tunai dan kartu kredit/kartu debit. Khusus bumil, bebas untuk menggunakan tunai atau kartu. Pembayaran dengan kartu kredit BCA silver/gold ada additional discount 5%, sementara yang platinum 10%.

Gw ada di bazaar itu sekitar 2 jam. Pas antri kasir sekitar jam 3.30, antriannya bisa dibilang sedikit. Tidak mengular panjang seperti omongan orang kemarin. Dari sekilas pantauan gw, orang-orang belanjanya masih pakai kantong plastik kok. Kayaknya cuma 2 atau 3 orang yang belanjaannya berdus-dus sampe harus dibantuin orang lain.

Keluar dari bazaar, antrian di lantai 8 baru mulai masuk, lantai 7 masih penuh, lantai 6 bisa dibilang nyaris ga ada antrian walaupun ada beberapa orang yang baru datang.

Sekian cerita hari ini. The biggest credit goes to my lovely daughter Brinia for not complaining at all while accompanying me. â¤ 

Bayangin aja: sampe SenCy jam 12, makan siang dulu, trus ikut muter di bazaar, sampe akhirnya pulang. Ga pake stroller, ga pake gendong. Keluhannya cuma pas di akhir bazaar. Dia bilang ngantuk, trus pas gw bilang kita mau beli es krim, ngantuknya langsung hilang! :)) Jalan hampir 4 jam pasti bikin anak 3,5 tahun cape banget, ya gak sih? Makanya gw bersyukur banget dia ga rewel sama sekali. Alhamdulillah, semoga nanti adeknya juga bisa kerjasama kayak begitu sama emaknya ini. Aamiin.

Buat yang penasaran sama bazaarnya, selamat mencoba besok di hari terakhir!

Buat yang udah males duluan sama antrinya, selamat mencari akun jasa titip dengan harga yang paling sesuai!