Bitter. Sweet. Sour. Spicy.


Jika sudah lama tak terlihat

Apakah otomatis tak akan diingat?

Atau mungkin tetap ada

Tapi hanya dalam memori saja?

 

Jika tak pernah bertatap mata

Masihkah ada rasa untuk ingin tetap saling kenal?

Masihkah mencari tahu tentang kabarnya?

Atau cukup menunggu cerita di unggahan media sosial?

 

Hey! Apa kabar, kamu yang membaca?

Sekedar membalas sapa, seharusnya tak masalah

Aku masih di sini

Kamu, masihkah di sana?

 

lagi random, 7 Nov 2019, jelang adzan Isya.


Saya terbangun dari mimpi yang campur aduk. Ga jelas alur ceritanya, tapi rasa yang ditinggalkan ketika saya terbangun hanya satu: SEDIH.

Mimpi yang mengingatkan bahwa sewaktu-waktu kita bisa mati. Dan ketika mati, semua yang ada di dunia ini jadi tidak berarti lagi.

Mungkin bagi sebagian orang, mimpi adalah bunga tidur yang tak perlu digubris. Tapi bukankah Allah SWT tidak pernah menciptakan sesuatu secara sia-sia melainkan sebagai pengingat akan kuasa-Nya?

Lalu di Subuh hari ini saya pun merenung, jika sudah waktunya saya pergi, apakah saya meninggalkan kenangan yang baik? Kenangan baik yang membuat orang-orang mengirimkan doa terbaik untuk memperberat timbangan amal saya?

Apakah saya mampu menjadi seperti Bilal, sahabat nabi, yang di ujung sakaratul mautnya malah bersuka cita menyambut pertemuan dengan PenciptaNya?

Rasanya belum, karena saya masih takut sekali mati. Takut karena merasa yakin bahwa saya belum pantas masuk surga. Takut karena merasa yakin saya ga sanggup untuk ada di neraka.

Semoga ketakutan ini,

Semoga rasa sedih di Subuh hari ini,

Semoga tulisan ini,

Selalu menjadi pengingat bagi saya, dan bagi kalian yang membaca,

Bahwa hidup di dunia ini hanyalah perjalanan mengumpulkan bekal menuju kematian yang khusnul khatimah.

Aamiin.


Sebelum berakhir batas waktu untuk tema kali ini, let me share a pic:

Di celah kecil itu.

Di area sempit antara 2 gadis kecintaanku.

Itulah tempat aku tidur SETIAP MALAM. Posisi paling ga nyaman. Paling bikin pegel karena depan menyusui si adek dan belakang dipeluk kenceng si kakak.

Sejak si kakak lahir hampir 5 tahun yang lalu, hingga saat ini, aku selalu tidur miring. Menyusui si kakak hingga 2,5 tahun, lalu proses sapih yang bikin tangan jadi bantalnya karena kakak masih menuntut tidur sambil pelukan. Kemudian hamil si adek dan ku pikir ritual pelukan akan berakhir. Ternyata salah besar.

Sampai hamil besar, hingga akhirnya melahirkan, si kakak tetap minta pelukan. Tidur malam ataupun tidur siang, harus pelukan. Otherwise, dia bakal ngambek dan akunya malah kasihan lihatnya. 😅

Menjelang 11 bulan umur si adek, ritual pelukan masih terus berjalan. Mamanya udah pegel banget. Ayahnya juga pegel hatinya karena ga kebagian jatah. 😆

Kadang kalo lagi pegel banget, aku diemin si kakak walaupun dia ngambek. Sometimes, I need more space for me. Space buat tidur telentang! Tapi kalo udah liat dia tidur, langsung merasa bersalah karena kayaknya kok jahat banget jadi ibu. Anaknya cuma minta dipeluk, tapi akunya ngga mau. 😢

So, of all the thing that I knew I would miss in the future, momen tidur “sandwich” ini kayaknya akan jadi salah satu yang paling dirindukan nanti.

Badan pegel, posisi tidur kaku kayak kane*o kering, tapi cinta untuk dan dari anakku membuatnya sepadan sampai kapanpun. ❤️


Laahh?

Kok udah day 4 aja? Day 3-nya mana?

Mohon maap nih.. Kemaren abis malem mingguan, pas pulang udah cape banget. Pengennya tetap nulis, tapi ternyata ketiduran pas nyusuin si bayi. Ya sudahlah, semoga ke depannya ga ada yang terlewat lagi. 😆

Untuk hari ke 4, topiknya adalah mencari hal yang kita rasa perlu kita maafkan, lalu maafkanlah.

Of all the things that I could think of, I know I need to forgive myself for not accepting who I am enough.

Kenapa milih itu?

Karena gw baru menyadari, selama gw ga bisa menerima diri gw apa adanya, gimana orang lain bisa melihat gw apa adanya?

I thought I wasn’t good enough.

I thought I haven’t done enough.

I thought I haven’t given my best.

And the list goes on ~

Butuh waktu lama buat gw menyadari bahwa ga mungkin seorang idealis perfeksionis macam gw ga memberikan yang terbaik dalam apapun yang gw kerjakan. If turns out it didn’t enough for others, maybe I shouldn’t think that the blame was all on me, right? Lagipula, gw rasa gw cukup jujur untuk mengakui kalo memang gw ga maksimal dalam mengerjakan hal tersebut. Contohnya ya ketika gw mengambil keputusan untuk berhenti bekerja untuk jadi stay-at-home mom. Alasan yang gw berikan ke bos gw waktu itu adalah I can’t be best in both world. And it was the truth.

I was being too hard to myself. I still am, most of the time.

Tapi sekarang gw sadar, the harder I push myself means more appreciation to be given.

So, myself, I forgive you. 😘


Hola!

Untuk Self-Love Project (SLP) hari kedua, kita disuruh nulis tentang bagian tubuh yang paling dicintai.

Hmmmmm..

Hmmmmm..

Jujur pas baca instruksinya, gw butuh waktu beberapa saat sampe akhirnya menemukan apa yang mau gw tulis. And instead of writing it directly, gw malah kepikiran: kenapa gw butuh waktu lama buat mikirin jawabannya ya?

Gw mikir lama karena emang ga menemukan jawabannya, bukan karena bingung memilih antara beberapa bagian yang gw suka.

Menyedihkan sekali ya?

Sepertinya ini efek dari kecil dibilang gendut dan disuruh diet. It seems like I grew up not loving my physical appearance. Satu lagi akar masalah yang bisa gw urai untuk gw perbaiki ke depannya. 😊

Daaann.. Apakah jawaban atas pertanyaan hari ini? Bagian tubuh manakah yang paling gw cintai?

*drum rolls*

Gw paling suka sama DAGU gw! 👏🏼

Ada apa dengan dagu gw?

Dagu gw agak lancip gitu. Jadi kalo senyum bikin muka gw keliatan panjang. Apalagi kalo angle fotonya pas. Dijamin keliatan tirus walaupun tanpa shading dan contouring. #tsaahh

Demikian lah tulisan hari ini. Nulis panjang lebar cuma untuk jawaban 1 paragraf. 🤪🤪

Well, this is me being me. Tend to overdo something. But anyhow, I still love you, Me! 😘


Hai semua!

Sebagai mamak 2 anak yang rasanya udah ga punya identitas diri, kadang gw suka merasa bingung sama tujuan hidup gw. Apalagi gw seorang ibu rumah tangga yang ga punya titel profesional. Jadilah label yang melekat di gw adalah istrinya si A atau mamanya si B. Setelah melalui fase stress karena hidup yang lumayan monoton selama hampir 8 bulan sejak lahirnya anak kedua gw, akhirnya gw merasa menemukan akar masalah yang selama ini ga gw sadari; I don’t love myself enough.

So, mumpung masih tanggal 1, I would like go start a Self-Love Project. Ini gw capture dari Pinterest semalam, habis lihat fenomena BlueBloodMoon.

Without further a do, let the project begin!

Gw Ozka, anak pertama dengan banyak adik (yang kalo ga salah hitung ada 7 😌). Umur 33 tapi muka masih seperti 27. Seumur hidup selalu bongsor ga pernah langsing, tapi pasca 2x hamil dan melahirkan sekarang resmi masuk kategori gendut. Agak gak PD sebenernya, tapi hasrat makan dan ngemil masih lebih besar daripada hasrat diet. Ditunjang dengan alasan “busui harus happy” atau “busui laperan terus”, maka gw sedang menunggu saat si bayi bisa disapih supaya gw bisa diet demi jadi model pakaian muslimah produksi sendiri. (AAMIIN AJA DULU YA ALLAH!)

Pernah kerja kantoran, tapi berhenti pas anak pertama umur 1 tahun. Sempet kerja lagi pas dia umur 2 tahun tapi hanya untuk kontrak 5 bulan. Selama kerja, gw ngerasa tersiksa banget karena harus ninggalin anak di daycare. Akhirnya gw memutuskan untuk (InsyaAllah) tidak akan ngantor lagi. Kalaupun pengen cari duit, ya diusahakan dari rumah alias jadi wirausahawati.

Kesibukan sekarang ya ngurus anak-anak, rumah dan (kadang-kadang) ngurus suami. Ada ART yang datang jam 7 dan pulang jam 10, sisanya seorang diri mengurus semuanya. Again, berharap lelah bisa bikin kurus tapi yang ada malah bikin makan tambah banyak.

Perjalanan hidup yang naik-turun dari kecil bikin gw jadi pribadi yang sanguinis, melankolis, influencing, dominan, idealis dan perfeksionis. Btw, itu hasil tes kepribadian loh ya! Jadi bisa dibayangkan lah seberapa serunya hidup gw di saat ada hal-hal yang tidak berjalan sesuai harapan. Jadi kepikiran banget, trus pengen mengubah keadaan padahal kadang memang diluar kuasa dan kemampuan.

I tend to love everything or everyone around me sooo deeply. But I forgot to love one person. The most important one. Me.

Jadi, Bismillah, semoga gw bisa amanah menjalankan project ini sebulan penuh dan bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik, yang penuh cinta terhadap diri sendiri. Aamiin.

❤️, me.


Ada satu makhluk yang:

• Kalau ada ibu kasih ASI Eksklusif tapi anaknya ga gemuk,

Langsung dibilang ibu yang ga baik.

Katanya: “tega banget ya anaknya jadi kurus demi predikat ASI eksklusif. Mbok ya dikasih sufor atau ambil donor asi aja.”

• Kalau ada ibu kasih sufor, apalagi masih dibawah 6 bulan,

Langsung dibilang ibu yang ga baik.

Katanya: “tega banget ya anaknya udah dikasih sufor. Mbok ya usaha lebih keras. Makan dan minum yang banyak. Susu terbaik buat bayi kan ASI.”

• Kalau ada ibu yang kasih makanan padat dengan dihaluskan dan disuapi,

Langsung dibilang ibu yang ga baik.

Katanya: “tega ya kasih makanan yang udah ga ada gizinya. Semua seratnya kan hancur kalo diblender. Anak juga jadi ga belajar mengunyah. Ga kenal rasa karena semua bahan makanan dicampur jadi satu.”

• Kalau ada ibu yang kasih makanan padat dengan metode baby-led weaning,

Langsung dibilang ibu yang ga baik.

Katanya: “tega ya kasih makanan utuh-utuh gitu. Kalo keselek gimana? Lagian ga kemakan juga sama anaknya, gimana nutrisinya mau bagus?”

• Kalau ada ibu yang kasih gadget ke anaknya,

Langsung dibilang ibu yang ga baik.

Katanya: “tega ya, anaknya jadi ga berkembang motoriknya. Potensi jadi anti-sosial juga.”

• Kalau ada ibu yang sering ajak anaknya main keluar,

Langsung dibilang ibu yang ga baik.

Katanya: “tega ya, lagi musim sakit begini malah sering diajak keluar. ”

• Kalau ada ibu yang bekerja di kantor,

Langsung dibilang ibu yang ga baik.

Katanya: “tega ya, lebih sayang duit daripada anak.”

• Kalau ada ibu yang memilih jadi ibu rumah tangga,

Langsung dibilang ibu yang ga baik.

Katanya: “tega ya, sekolah mahal. Masa hanya ngandalin suami? Percuma juga sekolah tinggi, ujungnya cuma di rumah.”

• Kalau ada ibu yang memilih kasih obat untuk sakit ringan,

Langsung dibilang ibu yang ga baik.

Katanya: “tega ya, cuma begitu aja dikasih obat macem-macem. ”

• Kalau ada ibu yang memilih untuk tidak kasih obat,

Langsung dibilang ibu yang ga baik.

Katanya: “tega ya, udah sakit tetap ga dikasih obat.”

Makhluk paling jahat itu, biasa disebut

IBU / MAMA / BUNDA / MAMI / UMMI

Ya.

Kita, sesama ibu, kadang menjadi makhluk jahat yang suka nyinyir kepada sesama ibu. Hanya karena keputusan mereka berbeda dengan kita dalam hal membesarkan anak.

Tapi makhluk lain juga begitu!

Betul. Makhluk lain juga begitu. Ketika ada yang tidak sepaham sejalan, mereka akan menjatuhkan pihak yang berseberangan demi menasbihkan bahwa pendapat mereka paling benar.

Tapi ibu seharusnya tidak begitu.

Karena ibu pengaruhnya besar sekali. Ke anak dan juga ke suami.

Ibu seharusnya menjadi yang paling mengerti, bahwa setiap manusia memiliki karakter sendiri-sendiri. Anak-anak yang berasal dari sel sperma & sel telur yang sama dan dikandung dalam rahim yang sama saja pasti berbeda karakternya.

Selama seorang ibu berbahagia dengan pilihannya dalam membesarkan anak(-anak)nya, maka biasanya ibu tersebut akan menghasilkan anak yang berbahagia pula. Ibu yang bahagia akan membuat suami bahagia juga karena suasana di keluarga akan terasa menyenangkan.

Kita butuh lebih banyak orang bahagia. Dimulai dari kita, para ibu. Mari bekerjasama untuk menciptakan generasi yang berbahagia.

Ibu yang kasih ASIX tetapi anaknya tetap kurus? Ya mungkin memang genetikanya begitu.

Ibu yang kasih sufor? Ya mungkin memang ada masalah dengan ASInya sehingga butuh dibantu daripada anaknya kehausan.

Ibu yang kasih makanan halus? Ya mungkin cara itu yang bikin anaknya mau makan.

Ibu yang kasih makanan padat? Ya mungkin memang anaknya lebih senang memegang dan memasukkan makanannya sendiri.

Selalu ada alasan di balik keputusan seorang ibu. Tapi setiap alasan itu pasti pilihan terbaik yang bisa diambil. Dan kalaupun itu bukan pilihan terbaik, ya biarkan saja. Selama tidak menyakiti seseorang, dukunglah keputusan semua ibu yang kita kenal.

Menjadi ibu adalah sebuah perjalanan bersama anak-anak. Anak sendiri, bukan anak orang lain.

Menjadi ibu adalah sebuah proses belajar untuk menjadi lebih baik lagi dan lagi. Bukan sebuah kompetisi yang memperebutkan piala dan trofi.

Saya pun termasuk makhluk jahat yang kadang suka membandingkan pola asuh sesama ibu. Maka seperti biasa, tulisan ini saya buat sebagai pengingat; Pengingat untuk menjadi ibu yang selalu bahagia.

Catch me on..